Jumat, 01 November 2013

Kesulitan Belajar

Kapan seorang anak dicurigai mengalami gangguan belajar?
Apabila prestasi akademik seorang anak tidak sesuai dengan kemampuan intelektualnya, anak tersebut dicurigai mengalami gangguan belajar. Anak mungkin mengalami gangguan membaca, menulis, mengeja, berbicara, mendengarkan, berpikir, atau melakukan perhitungan matematika.
Apa saja gejala gangguan belajar?
Anak dengan gangguan belajar perlu mengerahkan usaha yang sangat keras untuk belajar. Hal ini menyebabkan anak lelah, yang mungkin muncul dalam bentuk “bosan sekolah,” rasa cemas atau takut terhadap sekolah, perilaku yang mengganggu kegiatan belajar-mengajar (misalnya bercanda berlebihan atau mengganggu teman), dan membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan tugas dibandingkan teman-temannya.
Bila keadaan di atas berlarut, anak akan jatuh ke dalam fase school distress. Pada fase ini anak sering mendapat nilai jelek, sering absen, sering mendapat hukuman mulai dari yang ringan hingga diskors, menarik diri dari pergaulan, dan mungkin menunjukkan perilaku agresif hingga bullying.
Anak dengan gangguan belajar yang tidak tertangani terancam mengalami kegagalan sekolah, yaitu bila anak sampai tidak naik kelas, dikeluarkan dari sekolah, atau putus sekolah (drop out).

Beberapa bentuk gangguan belajar
Disleksia atau kesulitan membaca (dan sebagai akibatnya anak juga kesulitan menulis) adalah gangguan belajar tersering. Umumnya anak dengan disleksia kesulitan memenggal kata (memecah suatu kata menjadi suku-suku kata) dan mengenali bunyi yang tepat dari kombinasi huruf tertentu. Akibatnya, anak seperti membaca terbalik-balik (misal: “pesawat” dibaca “eswapat,” “matahari” dibaca “atmarahi”).
Disgrafia adalah kesulitan berekspresi dalam bentuk tulisan, termasuk kesulitan dalam membuat tulisan tangan, mengeja, dan mengorganisasikan pikiran.
Diskalkulia adalah kesulitan dalam mempelajari konsep-konsep matematika mendasar, (misal jumlah, nilai, dan waktu), menghafal angka-angka (misal tanggal), mengorganisasikan angka, dan memahami sistem penomoran.
Gangguan bahasa reseptif juga dapat menyebabkan gangguan belajar. Informasi lebih rinci mengenai gangguan bahasa dapat dilihat di sini.
Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD) dahulu dianggap sebagai salah satu bentuk gangguan belajar. Saat ini anggapan tersebut sudah ditinggalkan. Walaupun anak GPPH sulit duduk diam di kelas, sebagian besar dapat belajar secara normal terutama bila GPPH sudah mendapat terapi yang memadai.

Apa yang harus dilakukan bila anak saya dicurigai mengalami gangguan belajar?
Apabila anak mengalami gejala-gejala gangguan belajar, baik dikeluhkan oleh anak sendiri maupun oleh gurunya, segeralah mencari bantuan profesional, baik dokter spesialis anak, psikolog, atau psikiater anak. Beberapa sekolah memiliki psikolog sekolah yang akan mengevaluasi anak. Diagnosis dini penting agar anak cepat mendapat penanganan dan terbebas dari label negatif seperti “bodoh,” “malas,” atau “nakal.” Penegakan diagnosis gangguan belajar umumnya membutuhkan pendekatan tim yang terdiri atas dokter anak, psikolog, guru, serta terapis terkait (audiologis untuk masalah pendengaran, terapis wicara untuk gangguan bicara dan bahasa, terapis okupasi, dan lain sebagainya sesuai masalah yang mendasari gangguan belajar).
Bagaimana penanganan anak dengan gangguan belajar?
Penanganan anak dengan gangguan belajar juga melibatkan tim seperti di atas. Anak mungkin membutuhkan tutor khusus. Bersama anak, terapis mungkin akan membuat rencana belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Banyak anak dengan gangguan belajar dapat tetap belajar di kelas bersama dengan teman-temannya dan dapat melakukan hal-hal lain yang lazim dilakukan anak seusianya, seperti berolah raga dan mengikuti kegiatan ekstrakurikular.
Khususnya bagi orangtua dan lingkungan terdekat, sangat penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak. Anak dengan gangguan belajar seringkali memiliki bakat atau kelebihan lain; hal ini perlu dikembangkan semaksimal mungkin agar anak merasa spesial dan berprestasi.
Apakah gangguan belajar bisa sembuh?
Orang dewasa yang (pernah) mengalami gangguan belajar pada masa anak dapat mencapai sukses akademik dan profesional pada masa dewasa. Namun sebagian masih rentan terhadap masalah dalam pekerjaan maupun hubungan sosial. Dukungan orangtua, sekolah, dan lingkungan sangat menentukan hasil akhir yang dicapai anak. Anak perlu dibimbing dan dipantau secara intensif khususnya pada masa remaja dan dewasa muda.
Walaupun bermasalah di bidang akademik, orang dengan gangguan belajar dapat mencapai prestasi tinggi di bidang lain sesuai bakat dan minatnya.


Disadur dari tulisan : Amanda Soebadi (Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI – RSCM)
Oleh : Eni Widodo

 

PENDIDIKAN KARAKTER & MASYARAKAT MASA DEPAN



Definisi Pendidikan Karakter

Pendidikan adalah proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik (PP No, 19/2005, bagian penjelasan). Apanya yang didayakan?  Potensi keberbakatan, minat dan kecerdasannya dengan tujuan untuk membangun karakter, membangun visi, membangun kompetensi, membangun kreativitas.
Karakter adalah budi pekerti plus. Plus apa ? Spiritualita.
Yaitu kesadaran akan sesuatu makna  yang lebih tinggi (misalnya adanya keimanan)  sehingga performa tingkahlakunya serba terpandu oleh cahaya yang mencerahkannya. [Wayne Perry]
Karakter harus dibangun melalui pendidikan (baik formal, non-formal maupun informal) yang kaya dengan nilai-nilai kebajikan dan yang menjunjung tinggi kemartabatan hidup berdasarkan nilai-nilai kebijaka itu.

Butir-butir Budaya-Karakter-Bangsa

01
Religius
10
Semangat Kebangsaan
02
Jujur
11
Cinta Tanah Air
03
Toleransi
12
Menghargai Prestasi
04
Disiplin
13
Bersahabat/Komunikatif
05
Kerja Keras
14
Cinta Damai
06
Kreatif
15
Gemar Membaca
07
Mandiri
16
Peduli Sosial
08
Demokratis
17
Tanggung Jawab
09
Rasa Ingin Tahu



Pendidikan karakter adalah The only thing in the world not for sale is character (Antonin Scalia)
Pendidikan membangun kreativitas :
1.       Kemampuan memikirkan hal-hal baru.
2.       Kemampuan untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang baru, mengembangkan gagasan baru untuk memecahkan  persoalan, kelenturan berpikir, kemampuan berpikir lateral,  termasuk dalam lingkup kreativitas.
3.       Kemampuan melihat yang tidak terlihat dan memikirkan yang terpikirkan orang lain adalah dua ciri utama kreativitas
Pendidikan membangun kecakapan memimpin diri sendiri
1.       Memimpin diri sendiri dengan visi atau cita-cita hidup yang jelas.
2.       Memimpin diri sendiri  dengan memegang nilai-nilai  atau prinsip-prinsip hidup yang jelas .
3.       Memimpin diri sendiri agar tidak terjebak dalam sikap ‘tujuan menghalalkan cara’
4.       Memimpin diri sendiri agar tidak tersesat dalam belantara dan ‘huru-hara’ globalisasi.

Pendidikan membangun kecakapan untuk tumbuh dan berkembang bersama orang lain dalam kebhinekaan
1.       Memandang kebhinekaan sebagai hal yang kodrati, dan memanfaatkannya untuk menciptakan keunggulan.
2.       Berkembang dengan mentalitas berkelimpahan (abundance mentality).
3.       Berkembang dengan memahami pentingnya hidup berbagi semakin  berbagi akan semakin berkelimpahanlah orang itu.
4.       Agar keberhasilan kita tidak menjadi sumber penderitaan bagi orang lain.

Pendidikan membangun  kecakapan menanggapi perubahan
1.       Kecakapan memilih apa yang dipelajari, dan ‘belajar bagaimana belajar’ (learn how to learn).
2.       Bersikap proaktif, bisa memilih tingkah laku yang paling pantas dalam mencapai cita-citanya. 
3.       Terbuka terhadap kemungkinan baru, terbuka terhadap pengetahuan baru.

Pendidikan membangun kecakapan untuk menciptakan nilai atau manfaat
1.       Memahami kebutuhan masyarakat.
2.       Peka melihat peluang untuk melakukan kebaikan-kebaikan  bagi kepentingan kemajuan kemanusiaan.
3.       Mencari peluang dan melakukan usaha-usaha untuk dapat berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat.
4.       Mengembangkan tata-nilai dan tata-laku normatif bagi pemeradaban masyarakat yang majemuk.

Pendidikan membangun karakter
  • Karakter: Sifat khas, kualitas dan kekuatan moral pada seseorang atau kelompok.
  • Karakter mencakup:  integritas, kepercayaan-diri, kedewasaan, mentalitas-berkelimpahan (abundance mentality), kegigihan, dan semangat memperbarui diri, dan semangat untuk mencapai yang terbaik.

Masyarakat masa depan

Ciri-ciri masyarakat masa depan:
1.       Kualitas seseorang tidak ditentukan oleh apa yang Anda punya, tapi lebih ditentukan oleh  ‘siapa anda’.
2.       Kesejahteraan dan kebahagiaan akan lebih banyak tergantung pada modal maya yang dimiliki (modal intelektual, modal sosial, modal etikal, modal personal, seperti:  iman, keteguhan, kekayaan rohaniah dan sebagainya).

Kecenderungan masa depan:
3.       Masyarakat akan lebih terbuka menerima kebhinekaan sebagai hal yang kodrati dan memanfaatkannya  sebagai sumber keunggulan.
4.       Masyarakat dituntut lebih terbuka untuk belajar dari mana saja, bisa menghargai hal-hal yang positif yang ada pada bangsa, masyarakat atau pun kelompok yang lain.

Masyarakat masa depan cenderung berkembang menjadi:
5.       Masyarakat dengan ciri keseketikaan, yaitu semuanya bergerak dan berubah dengan cepat, semuanya menjadi makin sementara.
6.       Masyarakat penuh dengan kebaruan yang bersumber pada kreativitas dan daya inovasi manusia.
7.       Masyarakat menjadi serba  berkompetisi dan berkooperasi secara global dengan standard internasional.

Di masa masa depan:
8.       Masyarakat dituntut lebih  dewasa dalam  memecahkan perbedaan-perbedaan atau konflik dengan cara yang bermartabat, manusiawi dan tidak mencari kambing hitam (victim mentality)
9.       Masyarakat dituntut lebih menghargai kerja keras, menghargai prestasi,  tanpa mentalitas  ‘makan siang gratis’ [shg kedudukan, posisi atau status di masyarakat lebih didasarkan pada prestasi]. 
10.    Masyarakat dituntut bisa menemukan keselarasan antara  etika universal dengan kearifan lokal.
Sumber : Modul BK ( Kurikulum Karakter )
diunggah oleh : Drs. Eni Widodo, S. Pd 

Rencanakan Karirmu mulai Sekarang !

Bagi   siswa SMA N 1 Turi yang tidak ingin meneruskan ke jenjang Sarjana karena masalah ekonomi, atau ingin cepat dapat kerja setelah...